Gakuseishinsetsu

A. HUBUNGAN ANTARA MASALAH PRILAKU SOSIAL DENGAN KOMUNIKASI

Posted on: 14 Januari 2010

  1. HUBUNGAN ANTARA MASALAH PRILAKU SOSIAL DENGAN KOMUNIKASI

Sejauh ini tidak ditemukan tes klinis yang dapat mendiagnosa langsung autisme. Diagnosa yang paling tepat adalah dengan cara seksama mengamati perlilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat perkembangannya. Dikarenakan banyaknya perilaku autisme juga disebabkan oleh adanya kelainan kelainan lain (bukan autisme) sehingga tes klinis dapat pula dilakukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut.

Pendekatan yang baru terhadap intervensi perilaku cendrung ingin mengidentifikasi perlunya memasukkan perilaku dalam konteks lingkungan dimana perilaku ini terjadi. Sudah semakin disadari bahwa ada hubungan langsung antara perilaku anak dengan kemmampuan mereka untuk menggunakan sarana lain untuk mengkomunikasikan kemauan mereka dalam suatu situasi. Perilaku ini dikatakan memilki fungsi komunikasi yang merupakan upaya untuk mengirimkan pesan komunikasi. Hal ini difokuskan pada fungsi komunikasi yang menyimpang, yang digunakan agar orang lain tahu.

Ketidak mampuan untuk mengkomunikasikan kemauan dan kebutuhan melalui sarana sosial atau komunikatif yang lebih dapat diterima ini menjadi target bimbingan bagi anak autis. Dengan memperhatikan perilakunya dalam konteks komunikasi maka diperoleh berbagai tujuan bimbingan bagi anak autis. Pendekatan perilaku sebagai bentuk komunikasi ini secara efektif dapat menghilangkan aspek masalah komunikasi. Pendekatan ini difokuskan pada output anak yang harus diperbaiki, dan lebih memperhatikan adanya peristiwa/kejadian bawaan, yaitu keterampilan perilaku dan social anak. Dengan menggunakan pendukung lingkungan untuk meningkatkan komunikasi secara nyata mempengaruhi keseluruhan perilaku anak autis.

  1. MENGIDENTIFIKASI MASALAH PRILAKU SOSIAL

Karena karakteristik dari penyandang autisme ini banyak sekali ragamnya sehingga cara diagnosa yang paling ideal adalah dengan memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autisme. Dokter ahli / praktisi profesional yang hanya mempunyai sedikit pengetahuan / training mengenai autisme akan mengalami kesulitan dalam men-diagnosa autisme. Kadang kadang dokter ahli / praktisi profesional keliru melakukan diagnosa dan tidak melibatkan orang tua sewaktu melakukan diagnosa. Kesulitan dalam pemahaman autisme dapat menjurus pada kesalahan dalam memberikan pelayanan kepada penyandang autisme yang secara umum sangat memerlukan perhatian yang khusus dan rumit.

Hasil pengamatan sesaat belumlah dapat disimpulkan sebagai hasil mutlak dari kemampuan dan perilaku seorang anak. Masukkan dari orang tua mengenai kronologi perkembangan anak adalah hal terpenting dalam menentukan keakuratan hasil diagnosa. Secara sekilas, penyandang autisme dapat terlihat seperti anak dengan keterbelakangan mental, kelainan perilaku, gangguan pendengaran atau bahkan berperilaku aneh dan nyentrik. Yang lebih menyulitkan lagi adalah semua gejala tersebut diatas dapat timbul secara bersamaan. Karenanya sangatlah penting untuk membedakan antara autisme dengan yang lainnya sehingga diagnosa yang akurat dan penanganan sedini mungkin dapat dilakukan untuk menentukan terapi yang tepat

Apapun diagnosisnya, semua sepakat bahwa tugas dokter terpenting adalah menemukan anak-anak kecil yang sudah mulai menunjukkan beberapa gejala perilaku yang tidak lazim. Orang tua juga sangat berperan dan dapat membantu dengan melaporkan kecurigaan adanya gangguan perilaku. Penolakan kenyataan oleh orang tua dan keluarga, atau dokter yang menganggap bahwa suatu penyimpangan perilaku adalah “tidak apa-apa” akan sangat merugikan anak karena keterlambatan intervensi. Bila memang ada penyimpangan perkembangan, mungkin kita tidak bisa memberi label diagnosis, namun terapi dan stimulasi harus segera dimulai dan tidak boleh menunggu. Makin dini intervensi dilakukan, makin baik hasilnya.

  1. MENGIDENTIFIKASI KESULITAN BERKOMUNIKASI

Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya bahwa alat/media utama komunikasi adalah bahasa, sementara bahasa itu sendiri secara umum terbagi dua, yaitu bahasa verbal (lisan) dan non verbal (isyarat, gerak tubuh, ekspresi wajah, tulisan). Oleh karena itu komunikasi berlangsung tidak hanya dengan menggunakan kata-kata tetapi juga dengan bantuan tindakan, gerak isyarat, ekspresi wajah, gambar yang bermakna, dan tulisan.

Berdasrkan hal tersebut maka jenis komunikasi itu ada dua, yaitu:

- Komunikasi verbal (lisan)

- Komunikasi non verbal (isyarat, gerak tubuh, ekspresi wajah, tulisan)

  1. Perkembangan Komunikasi Pada Anak

Perkembangan komunikasi anak pada umumnya berawal dari tangisan bayi yang memberi tahu ibunya bahwa ia merasa lapar atau tidak nyaman. Usia sekitar 2 bulan bayi sudah mengeluarkan suara-suara (cooing) atau tertawa, bila ia merasa senang. Kemudian berkembang menjadi babbling atau pengulangan rangkaian konsonan-vokal misalnya, ma-ma-ma, ba-ba-ba. Usia sekitar 10 bulan, bayi sudah mulai mengenal kata-kata tapi belum mampu mengucapkannya dan kemudian mengucapakan kata pertamanya pada saat ia berusia sekitar 1 tahun.

Perkembangan bicara anak pada umumnya akan terus berkembang dengan pesat sehingga dalam rentang usia 16-24 bulan perbendaharaan kata yang dimiliki oleh anak meningkat dari 50 kata menjadi kurang lebih 400 kata. Saat berusia 2 tahun, anak seharusnya sudah mampu menggunakan kata kerja, kata sifat dan melakukan pengungkapan diri dengan kalimat yang terdiri dari 2 kata.

Menginjak usia 3 tahun, cara anak berbicara sudah menyamai cara orang dewasa berbicara secara informal. Anak sudah menguasai hampir 1000 kata, dapat menyusun kalimat dengan benar dan dapat berkomunikasi dengan baik. Disamping menggunakan bahasa, anak pada umumnya juga mampu berkomunikasi dengan gestur dan simbol-simbol lainnya (Papalia, 1995 dalam Riyanti, 2002:12).

Menurut Sussman (1999) dalam Sjah dan Fadhilah (2003:214) komunikasi berkembang melalui empat tahapan:

a)      The own agenda Stage

Pada tahap ini anak lebih suka bemain sendiri dan tampaknya tidak tertarik pada orang-orang di sekitarnya. Anak belum tahu bahwa dengan komunikasi ia dapat mempengaruhi orang lain. Untuk mengetahui keinginannya, kita harus memperhatikan gerak tubuh dan ekspresi wajah anak. Seringkali anak mengambil sendiri benda-benda yang diinginkannya

b)      The requester stage

Anak mulai menyadari bahwa tingkah lakunya dapat mempengaruhi orang di sekitarnya.. bila menginginkan sesuatu, anak biaanya menarik tangan kita dan mengarahkannya ke benda yang diinginkan. Sebagian anak telah mampu mengulangi kata-kata atau suara tetapi bukan untuk berkomunikasi melainkan untuk menenangkan dirinya. Anak juga mulai bisa mengikuti perintah sederhana tapi responnya belum konsisten

c)      The early communication stage

Anak telah menyadari bahwa ia bisa menggunakan satu bentuk komunikasi tertentu secara knsisten pada situasi khusus. Namun demikian, inisiatif berkomunikasi masih terbatas pada pemenuhan kebutuhannya. Anak mulai memahami isyarat visual/gambar komunikasi dan memahami kalimat-kalimat sederhana yang kita ucapkan. Bila terlihat perkembangan bahwa anak mulai memanggil nama, menunjuk sesuatu yang diinginkan, atau melakukan kontak mata untuk menarik perhatian, maka berarti anak sudah siap untukmelakukan komunikasi dua arah.

d)      The partner stage

Tahap ini merupakan fase yang paling efektif. Bila kemampuan bicara anak baik, ia akan mampu melakukan percakapan sederhana. Anak juga dapat diminta untuk menceritakan pengalamannya, keinginannya yang belum terpenuhi dan mengekspresikan perasaanya. Namun demikian, biasanya anak masih terpaku pada kalimat-kalimat yang telah dihapalkan dan sulit menemukan topik pembicaraan yang tepat pada situasi baru. Bagi anak-anak yang masih mengalami

kesulitan untuk berbiara, komunikasi dapat dilakukan dengan menggunakan rangkaian gambar atau menyusun kartu-kartu bertulisan.

Salah satu kesulitan yang dimiliki oleh anak autis adalah dalam hal komunikasi (Delphie, 2006:1). Oleh karena itu perkembangan komunikasi pada anak autis sangat berbeda, terutama pada anak-anak yang mengalami hambatan yang berat dalam penguasaan bahasa dan bicara.

Kesulitan dalam komunikasi ini dikarenakan anak autis mengalami gangguan dalam berbahasa (verbal dan non verbal), padahal bahasa merupakan media utama dalam komunikasi. Mereka sering kesulitan untuk mengkomunikasikan keinginannya baik secara verbal (lisan/bicara) maupun non verbal (isyarat/gerak tubuh dan tulisan).

Sebagian besar dari mereka dapat berbicara, menggunakan kalimat pendek dengan kosa kata sederhana namun kosa katanya terbatas dan bicaranya sulit dipahami. Karena kosa katanya terbatas maka banyak perkataan yang mereka ucapkan tidak dipahaminya. Mereka yang dapat berbicara senang meniru ucapan dan membeo (echolalia). Beberapa diantara mereka sering kali menunjukkan kebingungan akan kata ganti. Contoh, mereka tidak menggunakan kata saya dan kamu secara benar, atau tidak mengerti ketika lawan bicaranya beralih dari kamu menjadi saya atau sebaliknya (Riyanti, 2002:16).

Pada saat anak pada umumnya sudah mengetahui nama, mampu merespon terhadap ya dan tidak, mengerti konsep abstrak laki-laki – perempuan, dan mengikuti perintah-perintah sederhana. Sementara itu pada anak autis mungkin hanya echolalia terhadap apa yang dikatakan atau tidak bicara sama sekali.

Anak pada umumnya biasanya mulai mengoceh sekitar umur enam bulan. Ia mulai bicara dalam bentuk kata pada umur satu tahun dan merangkai dua atau tiga kata dalam satu kalimat sebelum delapan belas bulan. Sedangkan pada anak autis sebaliknya, ia tidak memiliki pola perkembangan bahasa. Kemampuan komunikasi mereka bervairasi, diantara mereka ada yang tidak pernah bicara, seperti anak pada umumnya sampai delapan belas bulan atau dua puluh bulan, kadang-kadang kemampuan bicara mereka hilang begitu saja.

Anak autis yang sulit berbicara, seringkali mengungkapkan diri atau keinginannya melalui perilaku. Memang untuk beberapa kasus anak autis yang ada yang sudah mampu menyampaikan keinginannya dengan cara menarik tangan orang yang didekatnya atau menunjuk ke suatu arah yang diinginkan, atau mungkin menjerit. Jika orangtua atau orang disekitarnya tidak memahami apa yang diinginkannya anak akan marah-marah, mengamuk dan mungkin tantrumnya akan muncul.

Siegel (1996:44) secara umum menggambarkan perkembangan komuniksi anak autis terbagi dalam dua bagian, yaitu:

1. Perkembangan komunikasi verbal, meliputi keterlambatan berbahasa bahkan ada diantara mereka yang kemampuan berbahasanya hilang, echolalia dan menggunakan bahasa yang aneh/tidak dimengerti, menggunakan bahasa sederhana (misalnya minta makan:”Makan, ya!”).

2. Perkembangan komunikasi non verbal, meliputi menggunakan gestur, gerak tubuh, mengungkapkan keinginan dengan ekspresi emosi (menjerit, marah-marah, menangis).

Dengan perkembangan komunikasi seperti telah disampaikan di atas jelaslah anak autis akan menghadapi berbagai kesulitan untuk mengungkapkan keinginannya dan dengan kemampuan komunikasi seperti demikian perlu adanya suatu cara yang dapat membantu mereka untuk berkomunikasi dengan lingkungannya.

  1. MENGIDENTIFIKASI TUJUAN

Ada dua tujuan utama dalam menanggulangi masalah perilaku social anak dari segi komunikasi ;

  1. meningkatkan lingkungan yang mendukung

menciptakan lingkungan agar kesulitan perilaku social berkurang dapat dilaksanakan dengan mengembangakan system alat peraga visual untuk mendukung komunikasi terutama difokuskan pada cara penyampaian informasi. Metodologi pendidikan pendidikan menyarankan untuk mengajarkan rutinitas kegiatan yang dapat dikenal anak dan membuat jadwal, perubahan dan transisi dari hal-hal yang dikenal anak merupakan masalah yang paling potensial bagi anak yang mengalami gangguan social.

  1. mengembangkan keterampilan alternative

mengembangkan keterampilan alternative agar perilaku yang tidak disukai berkurang, hal ini berlaku pada anak autis yang mengalami gangguan verbal atau non verbal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa memang terlihat ada suatu kaitan metode komunikasi verbal dan non verbal yang diberikan kepada anak penyandang autis. Metode komunikasi ini nampak memberikan bukti keberhasilan dalam penurunan derajat autis anak penyandang autis.

Komunikasi verbal difokuskan pada terapi wicara, yang arahnya meningkatkan kosakata kemampuan semantik. Komunikasai non verbal difokuskan pada terapi perilaku, tujuannya untuk meningkatkan kemampuan motorik halus dan motorik kasar serta panca indera anak penyandang autis tersebut

  1. MENINGKATKAN KOMUNIKASI ANAK AUTIS YANG  NON VERBAL
  2. Peningkatan Keterampilan Komunikasi Bagi Anak Autis dengan Media PECS
    1. Pengertian PECS

PECS (Picture Exchange Communication System) adalah suatu pendekatan untuk melatih komunikasi dengan menggunakan simbol-simbol verbal (Bondy dan Frost, 1994:2). PECS dirancang oleh Andrew Bondy dan Lori Frost pada tahun 1985 dan mulai dipublikasikan pada tahun 1994 di Amerika Serikat. Awalnya PECS ini digunakan untuk siswa-siswa pra sekolah yang mengalami autisme dan kelainan lainnya yang berkaitan dengan gangguan komunikasi. Siswa yang menggunakan PECS ini adalah mereka yang perkembangan bahasanya tidak menggembirakan dan mereka tidak memiliki kemauan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dalam perkembangan selanjutnya, penggunaan PECS telah meluas dapat digunakan untuk berbagai usia dan lebih diperdalam lagi.

Dengan menggunakan PECS bukan berarti menyerah bahwa anak tidak akan bicara, tetapi dengan adanya bantuan gambar-gambar atau simbol-simbol maka pemahaman terhadap bahasa yang disampaikan secara verbal dapat dipahami secara jelas. Memang, pada tahap awalnya anak diperkenalkan dengan simbol-simbol non verbal. Namun pada fase akhir dalam penggunaan PECS ini, anak dimotivasi untuk berbicara. Meskipun PECS bukanlah program untuk mengajarkan anak autis cara berbicara, pada akhirnya mendorong mereka untuk berbicara.

Ada kekhawatiran orangtua terhadap anaknya yang menggunakan PECS ini. Mereka khawatir anaknya tidak bisa bicara dan ketergantungan terhadap gambar. Untuk itu Schwartz (1998) dalam www. autism.healingthresholds.com) melakukan penelitian pada 18 orang anak-anak pra sekolah yang mengalami gangguan berbahasa, beberapa diantara mereka didiagnosa sebagai anak autis. Mereka mendapat penanganan dengan menggunakan PECS. Anak-anak tersebut menggunakan PECS untuk berkomunikasi selama di sekolah, tidak hanya pada sesi latihan saja. Ternyata setelah setahun, lebih dari setengahnya telah berhenti menggunakan PECS dan mulai menggunakan kemampuan bicara alaminya.

Tidak ditemukan adanya dampak negatif dari penggunaan PECS ini (Bondy, 2001). Ada pun kekhawatiran akan adanya ketergantungan pada PECS dan keterampilan bicara anak autis menjadi tidak berkembang, pandangan/kekhawatiran itu tidak didasari oleh hasil penelitian. Kenyataanya banyak bukti bahwa anak-anak autis yang menggunakan PECS perkembangan keterampilan bicaranya lebih cepat dibandingkan dengan yang tidak menggunakan PECS (Bondy, 2001).

Penelitian terakhir oleh Yoder dan Stone (2006) membandingkan antara anak-anak yang menggunakan PECS dengan sistem yang lain. Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak autis yang dilatih dengan menggunakan PECS lebih verbal dibandingkan dengan yang lain. PECS ini akan lebih efektif mendorong anak autis untuk lebih verbal jika dilatihkan pada anak berusia di bawah enam tahun.

Berdasarkan pengalaman Wallin (2007:1) ada beberapa keunggulan yang dimiliki oleh PECS ini, diantaranya:

§ Setiap pertukaran menunjukkan tujuan yang jelas dan mudah dipahami. Pada saat tangan anak menunjuk gambar atau kalimat, maka dapat dengan cepat dan mudah permintaan atau pendapatnya itu dipahami. Melalui PECS, anak telah diberikan jalan yang lancar dan mudah untuk menemukan kebutuhannya.

§ Sejak dari awal, tujuan komunikasi ditentukan oleh anak. Anak-anak tidak diarahkan untuk merespon kata-kata tertentu atau pengajaran yang ditentukan oleh orang dewasa, akan tetapi anak-anak didorong untuk secara mandiri memperoleh “jembatan” komunikasinya dan terjadi secara alamiah. Guru atau pembimbing mencari apa yang anak inginkan untuk dijadikan penguatan dan jembatan komunikasi dengan anak.

§ Komunikasi menjadi sesuatu penuh makna dan tinggi motivasi bagi anak autis.

§ Material (bahan-bahan) yang digunakan cukup murah, mudah disiapkan, dan bisa dipakai kapan saja dan dimana saja. Simbol PECS dapat dibuat dengan digambar sendiri atau dengan foto.

§ PECS tidak membatasi anak untuk berkomunikasi dengan siapapun. Setiap orang dapat dengan mudah memahami simbol PECS sehingga anak autis dapat berkomunikasi dengan orang lain tidak hanya dengan keluarganya sendiri.

Pembelajaran komunikasi melalui PECS ini harus dimulai dari objek yang benar-benar anak inginkan. Oleh karenanya menurut Bondy dan Frost (1994) dalam Gardner, et al. (1999:11) dalam penerapan PECS ini perlu adanya penggunaan modifikasi perilaku. Melalui modifikasi perilaku tersebut akan diketahui apa yang anak inginkan. Objek yang diinginkan tersebut akan menjadi penguatan bagi anak untuk melakukan komunikasi melalui pertukaran gambar.

  1. Menyiapkan Material (Bahan-bahan) yang Digunakan

Material yang digunakan dalam PECS cukup murah. Simbol atau gambar dapat diperoleh dengan cara menggambar sendiri, dari majalah atau koran, foto, atau gambar dari komputer (clip art atau dari internet). Bisa juga menggunakan material resmi PECS yang diterbitkan oleh Pyramid Educational Consultants. Inc. Gambar-gambar atau simbol itu dibentuk kartu kemudian dilaminating agar awet dan di belakang gambar itu dipasang pengait (velcro) atau double tape agar bisa dipasang atau digantung pada berbagai media. Untuk menyimpan kartu gambar diperlukan file.

Dibawah ini sebagian contoh gambar yang dapat di gunakan:

Sumber: http://www.widgit.com

Gambar-gambar dan simbol dikelompokkan dan disusun dari yang paling mudah sampai yang paling sulit. Gambar dan simbol dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa kategori, misalnya:

Ø Orang dan jenis kelamin

Ø Profesi

Ø Kata benda, kata kerja, kata siifat, kata depan

Ø Binatang

Ø Bagian tubuh

Ø Pakaian dan perlengkapannya

Ø Jenis pekerjaan

Ø Rumah dan perlengkapannya

Ø Makanan

Ø Perlengkapan masak

Ø Transportasi

Ø Tempat-tempat umum

Ø Waktu dan cuaca

  1. PRILAKU PERKEMBANGAN

Orang tua akan cenderung merasa lebih khawatir apabila ia mengetahui bahwa anaknya menderita gejala autisme yang merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung PDD (Perpasive Development Disorder) di luar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder). Pada anak yang menderita autisme anak cenderung tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal dengan lingkungan sekitar. Akibatnya anak tersebut akan terisolasi dari manusia lain dan masuk ke dalam dunia repetitive dan minat yang obsesif. Mengelola anak dengan kecenderungan autisme memang membutuhkan kesabaran dan ketekunan dari orang tua\.

Anak-anak penderita autisme kecenderungan memperlihatkan setidaknya setengah dari tanda-tanda berikut.

  1. Anak akan sulit bersosialisasi dengan anak-anak lainnya
  2. Tertawa atau tergelak tidak pada tempatnya
  3. Tidak pernah atau jarang sekali kontak mata dengna lawan bicaranya
  4. Anak tidak peka terhadap rasa sakit
  5. Lebih suka menyendiri, sifatnya akan menjauhkan diri dari lingkungan sekitar
  6. Suka sekali pada benda-benda yang berputar atau memutarkan benda
  7. Anak memiliki ketertarikan pada suatu benda secara belebihan
  8. Hiperaktif atau melakukan kegiatan fisik secara berlebihan atau tidak melakukan tindakan apapun (anak cenderung sangat pendiam)
  9. Kesulitan dalam mengatakan kebutuhannya, lebih suka menggunakan isyarat atau menunjuk dengan tangan daripada dengan menggunakan kata-kata
  10. Menuntut hal yang sama, dan akan menentang perubahan atas hal-hal yang rutin
  11. Tidak memiliki kepedulian atas bahaya yang mengancam dirinya
  12. Menekuni permainan dengan cara yang aneh dalam waktu lama
  13. Sering mengulangi kata atau kalimat (tidak berbahasa seperti orang kebayakan)
  14. Tidak suka dipeluk (disayang) dan tidak suka menyayangi orang lain
  15. Tidak tanggap terhadap isyarat kata-kata, dan besikap seperti orang tuli
  16. Tidak memiliki minat terhadap metode pangajaran yang biasa
  17. Suka mengamuk atau memperlihatkan kesedihan tanpa alasan yang jelas
  18. Kecakapan motorik halus/kasar yang tidak seimbang (seperti anak tidak dapat menumpuk balok-balok, tapi anak dapat menendang bola.

Hal di atas buka diagnosa yang menjadi tolak ukur apakah anak menderita autis atau tidak, namun hal tersebut dapat dijadikan sebagai acuan untuk lebih mewaspadai perilaku anak yang tidak sewajarnya. Penanganan dini oleh ahli yang profesional akan memberikan kemungkinan lebih besar pada anak untuk dapat bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungannya. Terlepas dari berbagai karakteristik di atas, terdapat arahan dan pedoman bagi para orang tua dan para praktisi untuk lebih waspasa dan peduli terhadap gejala-gejala yang terlihat. The National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) di Amerika Serikat menyebutkan 5 jenis perilaku yang harus diwaspadai dan perlunya evaluasi lebih lanjut:

  1. Anak tidak bergumam hingga usia 12 bulan
  2. Anak tidak memperlihatkan kemampuan gestural (menunjuk, dada, menggenggam) hingga usia 12 bulan
  3. Anak tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga usia 16 bulan
  4. Anak tidak mampu menggunakan dua kalimat secara spontan di usia 24 bulan
  5. Anak kehilangan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial pada usia tertentu.

Adanya kelima “lampu merah” di atas tidak berarti bahwa anak tersebut menyandang autisme tetapi karena karakteristik gangguan autisme yang sangat beragam maka seorang anak harus mendapatkan evaluasi secara multidisipliner yang dapat meliputi: Neurolog, Psikolog, Pediatric, Terapi Wicara, Paedagog dan profesi lainnya yang memahami persoalan autisme. Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di bawah (umbrella term) PDD, yaitu:

  1. Autistic Disorder (Autism) Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas.
  2. Asperger’s Syndrome Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
  3. Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-NOS) Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa PDD-NOS berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).
  4. Rett’s Syndrome Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.
  5. Childhood Disintegrative Disorder (CDD) Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.

Gejala autisme dapat sangat ringan (mild), sedang (moderate) hingga parah (severe), sehingga masyarakat mungkin tidak menyadari seluruh keberadaannya. Parah atau ringannya gangguan autisme sering kemudian diparalelkan dengan keberfungsian. Dikatakan oleh para ahli bahwa anak-anak dengan autisme dengan tingkat intelegensi dan kognitif yang rendah, tidak berbicara (nonverbal), memiliki perilaku menyakiti diri sendiri, serta menunjukkan sangat terbatasnya minat dan rutinitas yang dilakukan maka mereka diklasifikasikan sebagai low functioning autism. Sementara mereka yang menunjukkan fungsi kognitif dan intelegensi yang tinggi, mampu menggunakan bahasa dan bicaranya secara efektif serta menunjukkan kemampuan mengikuti rutinitas yang umum diklasifikasikan sebagai high functioning autism. Dua dikotomi dari karakteristik gangguan sesungguhnya akan sangat berpengaruh pada implikasi pendidikan maupun model-model treatment yang diberikan pada para penyandang autisme.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: