Gakuseishinsetsu

“PROGRAM E-LEARNING DI SD”

Posted on: 7 Januari 2010

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini dunia pendidikan merupakan salah satu faktor yang menentukan dan bisa menjadi tolak ukur untuk kemajuan dan pencapaian prestasi suatu bangsa. Seiring dengan perkembangan itu pula teknologi informasi dan komunikasi mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kemajuan juga berdampak pada dunia pendidikan. Berbagai teknik dan metode pengajaran dalam pendidikan sekarang banyak bermunculan seiring dengan semakin mudahnya akses Information Communication Technology  (ICT). Apalagi dengan kehadiran jaringan iternet, di mana berbagai infmorasi akan mudah didapatkn oleh semua orang. Iinovasi pendidikan tidak terbendung lagi. Perkembangan Information Communication Technology (ICT) mempermudah guru dalam merealisasikan amanat PP No. 19 Tahun 2005. Bentuk realisasi penggunaan  Information Communication Technology  diantaranya adalah diterapkannya E-Learning dalam dunia pendidikan termasuk di sekolah dasar (SD).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, adapun rumusan masalah yang akan penulis angkat yaitu mengenai:

  1. Apa yang dimaksud dengan E-learning?
  2. Sejarah dan perkembangan E-learning
  3. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan
  4. Tujuan E-learning untuk pendidikan SD
  5. Manfaat E-learning dalam pendidikan
  6. Pelaksanaan program E-learning
  7. Hambatan pelaksanaan E-learning dalam pendidikan
  8. Upaya mengatasi hambatan pelaksanaan E-learning dalam pendidikan.

1.3 Tujuan penulisan

Adapun tujuan dari penyusunan mkalah ini diantaranya yaitu:

  1. Memenuhi tugas ujian tengah semester (UTS) mata kuliah Dasar Teknologi Informasi dan Komunikasi.
  2. Mengetahui dan memahami konsep  E-learning, sejarah e-learning, tujuan, manfaat dan pelaksanaan program E-learning di SD.
  3. Menganalisis hambatan pelaksanaan E-learning dalam pendidikan.
  4. Menemukan solusi dari hambatan yang ada dalam pelaksanaan E-learning.

1.4 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat yang bisa diambil dari penulisan makalah ini diantaranya yaitu :

  1. Mengetahui dan bisa memahami konsep E-learning?
  2. Mengetahui Sejarah dan perkembangan E-learning
  3. Mengetahui tujuan E-learning untuk pendidikan SD
  4. Mengetahui manfaat E-learning dalam pendidikan
  5. Mengetahui Pelaksanaan program E-learning
  6. Mengetahui hambatan pelaksanaan E-learning dalam pendidikan
  7. Mengetaui upaya dalam mengatasi hambatan pelaksanaan E-learning dalam pendidikan.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep E-learning

Apa yang dimaksud dengan e-learning ? mungkin masih banyak orang yang tidak memahami bahkan mengetahui apa dan bagaimana yang dimaksud dengan e-learning itu. e-learning terdiri dari dua kata yaitu “e” yang merupakan kepanjangan dari electronic dan learning. Sehingga jika ke dua kata tersebut digabungkan maka akan membentuk suatu pengertian yaitu pembelajaran yang berbasis elektronik..

Selaras dengan kemajuan teknologi pada masa kini, definisi e-learning atau electronic learning sering kali berubah-ubah. Secara umum, elecrtonic learning adalah pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan serangkaian alat elektronik (LAN, WAN atau internet) untuk menyampaikan isi materi yang akan diajarkan. Komputer, .internet, internet, satelit, tape audio/ video, TV interaktif dan CD ROM merupakan sebagian media elektronik yang tergolong ke dalam kategori ini.

Banyak pakar yang mengemukakan penafsirannya tentang e-learning dari berbagai sudut pandang diantaranya, yatu:

Hartley (Hartley, 2001) menyatakan: e-Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke pada siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain.

LearnFrame.Com dalam Glossary of eLearning Terms (Glossary, 2001) menyatakan suatu definisi yang lebih luas bahwa: e-Learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer, maupun komputer standalone.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa E-learning adalah pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi atau learn based Information Communication Technology (ICT). Penggunaan teknologi informasi dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran, dalam hal administrasi maupun penyampaian materi pelajaran kepada peserta didik.. Interactive e-learning membuat siswa turut berperanserta secara aktif dalam proses pembelajaran.

Apa saja keuntungan serta keunggulan dari e-learning? Ada beberapa keuntungan serta keunggulan yang didapat dari metode e-learning  diantaranya, yaitu:

  • Biaya yang murah;
  • Mengikuti perkembangan-perkembangan terakhir;
  • Bahan bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan;
  • Bahan mengikuti waktu;
  • Siapapun dari seluruh dunia dapat mengakses e-learning kapan dan   dimana saja secara bersamaan;
  • Bersifat universal;
  • Dapat membangun masyarakat;
  • Dari skala kecil maupun besar.

Sedangkan keunggulan yang didapat dari e-learning diantaranya, yaitu:

  • Tujuannya lebih berarti dan lebih merangsang;
  • Belajar dari perbuatan merupakan simulasi;
  • Belajar dari kegagalan;
  • Petubjuk dan feed back yang kuat;
  • Model dan cerita-cerita dari expert;
  • Program belajar otentik;
  • Setelah belajar dapat langsung digunakan /diperaktekan.

Dengan adanya poin-poin keuntungan serta keunggulan yang telah dipaparkan di atas maka pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik diharapkan akan lebih optimal sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya.

2.2 Sejarah dan Perkembangan E-learning

E-learning atau pembelajaran elektronik pertama kali diperkenalkan oleh universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction ) dan komputer bernama PLATO. Sejak itu, perkembangan E-learning dari masa ke masa adalah sebagai berikut:

(1) Tahun 1990 : Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan Audio) dalam format mov, mpeg-1, atau avi.

(2) Tahun 1994 : Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.

(3) Tahun 1997 : LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak , dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, Scorm, Ieee Lom, Ariadne, dsb.

(4) Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia, video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar, dan berukuran kecil.

E-learning 2.0

Istilah e-Learning 2.0 digunakan untuk merujuk kepada cara pandang baru terhadap pembelajaran elektronik yang terinspirasi oleh munculnya teknologi Web 2.0.

Web 2.0, adalah sebuah istilah yang dicetuskan pertama kali oleh O’Reilly Media pada tahun 2003, dan dipopulerkan pada konferensi web 2.0 pertama di tahun 2004.

Sistem konvensional pembelajaran elektronik biasanya berbasis pada paket pelajaran yang disampaikan kepada siswa dengan menggunakan teknologi Internet (biasanya melalui LMS). Peran siswa dalam pembelajaran terdiri dari pembacaan dan mempersiapkan tugas. Kemudian tugas dievaluasi oleh guru. Sebaliknya, e-learning 2.0 memiliki penekanan pada pembelajaran yang bersifat sosial dan penggunaan perangkat lunak sosial (social networking) seperti blog, wiki, podcast dan Second Life. Fenomena ini juga telah disebut sebagai Long Tail learning.

Selain itu juga, E-learning 2.0 erat hubungannya dengan Web 2.0, social networking (Jejaring Sosial) dan Personal Learning Environments (PLE).

Perkembangan eLearning di Idonesia sejalan dengan perkembangan Infrastruktur TIK. Beberapa program pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi khususnya Infrasruktur adalah:

  • 1999-2000 Jaringan Internet (Jarnet);
  • 2000-2001 Jaringan Informasi Sekolah (JIS);
  • 2002-2003 Wide Area Network Kota (WAN Kota);
  • 2004-2005 Information and Communication Technology Center (ICT Center);
  • 2006-2007 Indonesia Higher Education Network (Inherent);
  • 2007-skrg Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas);
  • 2008-skrg Southeast Asian Education Network (SEA EduNet);

Dengan mulai berkembanganya penggunaan internet, munculah situs elearning yang awalnya menjadi media sharring berbagai materi pembelajaran, diantaranya:

Namun seiring dengan perkembangan infrastruktur TIK tersebut maka institusi pendidikan mulai melakukan pengembangan e-learning.

2.3 Sarana dan Prasarana ’E-learning untuk Pendidikan

Program e-lerning for education harus didukung dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai agar supaya dalam pelaksanaanya di sekolah tidak saling mengganggu ketika guru akan menyampaikan pembelajaran kepada peserta didiknya..Sarana dan prasarana yang dibutuhkan diantaranya, yaitu:

  • Tiap-tiap kelas perlu 1 unit computer;
  • Koneksi internet;
  • Audio – Visual (TV, tape recorder);
  • LCD, baik portable maupun permanent;
  • PSB (pusat sumber belajar) yang menyediakan layanan dan program     pembelajaran berbasis ICT.

2.4 Tujuan ’E-learning untuk Pendidikan SD

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari e-learning for education untuk SD diantaranya, yaitu:

  • Menjawab tantangan tentang globalisasi informasi dan komunikasi khususnya dalam  kegiatan  belajar mengajar.
  • Penggunaan e-learning meningkatkan interaksi belajar mengajar menjadi lebih menarik.untuk siswa.
  • E-learning menghapus paradigma bahwa guru adalah sosok yang serba tahu.
  • Penggunaan e-learning mengajarkan dan membiasakan kepada anak mengenal teknologi.

Dari tujuan di atas maka akan memberikan banyak keuntungan dan kemudahan kepada pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran tersebut, baik untuk guru maupun siswanya.

2.5 Manfaat ’E-learning untuk Pendidikan

Banyak manfaat yang dapat dirasakan dari pelaksanaan program e-learning for education, bukan hanya bagi siswanya saja tapi bagi guru dan sekolahnya juga banyak memberikan kemudahan dan nilai plus.

  • Bagi Guru
  1. Guru tampil lebih percaya diri.
  2. E-learning meminimalisir tingkat kesalahan materi pelajaran  yang diberikan oleh guru.
  3. Pekerjaan mengajar menjadi lebih mudah.
  4. Pengajaran lebih efektif.
  • Bagi Siswa
  1. Siswa merasa lebih nyaman dengan penggunaan E-learning.
  2. Siswa dirangsang untuk berimajinasi dengan sajian audio visual yang menarik.
  3. Materi yang diajarkan guru lebih akurat kebenarannya.
  4. Materi pelajaran lebih mudah dipahami.
  5. Kegiatan belajar menjadi menyenangkan dan bermakna.
  6. Siswa tidak gaptek (gagap tekologi).
  • Bagi Sekolah
  1. Tingkat kepercayaan stake holder (yayasan, orang tua, dan masyarakat) meningkat.
  2. Memudahkan untuk memetakan guru pada program pelatihan lanjutan.
  3. Prestasi sekolah meningkat.
  4. Penggunaan e-learning memunculkan prestasi bagi sekolah.

Sedangkan manfaat pembelajaran elektronik learning (e-learning) menurut A. W. Bates (Bates, 1995) dan K. wulf (Wulf, 1996) itu terdiri atas 4 hal, yaitu:

  1. Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru/instruktur (enhance interactivity). Apabila dirancang secara cermat, pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar, interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar (enhance interactivity). Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi. Hal ini disebabkan karena pada pembelajaran yang bersifat konvensional kesempatan yang ada atau disediakan dosen/guru/instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas.
  2. Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajatan dari mana dan kapan saja (time and place flexibility). Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja (Dowling, 2002). Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada guru/ dosen/insrtuktur setelah selesai dikerjakan. Tidak perlu menunggu samapai ada janji untuk bertemu dengan guru/dosen/instruktur.
  3. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang  luas (potential to reach aglobal audience). Dengan fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan pembelajaran elektronik semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar dilakukan melalui internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan.
  4. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities). Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat lunak (software) yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar elektronik.. Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan mudah. Disamping itu, penyempurnaan metode penyajian materi pembelajaran dapat pula dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari peserta didik maupun atas hasil penilaian guru/dosen/instruktur selaku penanggungjawab atau pembina materi pembelajaran itu sendiri.

2.6 Pelaksanaan Program E-learning

Di dalam pelaksanaan programnya e-learning digunakan sebagai :

  1. Sumber materi pelajaran

Contoh: Materi bencana alam pada pelajaran IPS disampaikan dengan menayangkan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan bencana alam, misal:

gunung meletus : Guru menayangkan proses gunung meletus ( bisa didownload di internet).

Dengan pembelajaran konvensional siswa tidak bisa melihat secara langsung bagaimana proses terjadinya gunung meletus tersebut. Deminkian juga bencana banjir, angin puting beliung, dll. Namun dengan menggunakan media Information Communication Technology  (ICT), semuanya terlihat dengan sangat jelas. Siswa dapat menyaksikan prosesnya.

Materi-materi seperti tersebut di atas tersedia lengkap di internet. Materi tinggal dicaridi internet dan dapat langsung ditayangkan dengan menggunakan LCD.

  1. Presentasi siswa, baik tugas kelompok maupun tugas perorangan.
  2. KBM oleh guru (agar pembelajaran lebih menarik).

2.7 Hambatan Pelaksanaan E-learning dalam Pendidikan

Dalam penerapan e-learning untuk pendidikan tidaklah mudah, banyak kendala-kendala yang akan dijumpai, diantaranya yaitu:

  1. Belum semua guru mau menerima keberadaan E-learning.
  2. Belum semua guru mampu menguasai dan menggunakan E-learning.
  3. Beberapa media seperti LCD, wireless jumlahnya masih terbatas sehingga penggunaannya harus diatur.
  4. Harga media ICT masih mahal apalagi bagi tingkat SD yang terdapat di daerah-daerah terpencil dengan semua keadaan yang serba terbatas.

2.8 Upaya dalam Mengatasi Hambatan

Adapun  beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala yang telah dipaparkan di atas diantaranya yaitu sebagai berikut:

  1. Mengadakan pendekatan persuasif tentang pentingnya E-learning.
    1. Menjalin pola kemitraan dengan pihak-pihak yang peduli dengan pendidikan (kemitraan bisa dijalin dengan perusahaan yang beroperasi di sekitar lingkungan sekolah melalui program comunity development/comdev).
  1. Mengadakan pelatihan-pelatihan. Misalnya:
    1. Pelatihan komputer program windows dan excel.
      1. Pelatihan pebuwatan bahan ajar dalam power point.
      2. Pelatihan pembuatan e-mail.
      3. Pelatihan pembuatan blog.
      4. Mengupayakan media yang jumlahnya masih kurang (dapat menggunakan dana dari RAPB maupun BOS).


BAB III

KESIMPULAN

E-learning adalah pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi atau learn based Information Communication Technology (ICT). E-learning pertama kali diperkenalkan oleh universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction ) dan komputer bernama PLATO.

Dalam pelaksanaan e-learning harus didukung dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai. Tujuan e-learning yaitu menjawab tantangan tentang globalisasi informasi dan komunikasi khususnya dalam  kegiatan  belajar mengajar, meningkatkan interaksi belajar mengajar menjadi lebih menarik.untuk siswa, e-learning menghapus paradigma bahwa guru adalah sosok yang serba tahu, mengajarkan dan membiasakan kepada anak mengenal teknologi. Sedangkan manfaat e-learning untuk pendidikan yaitu bagi guru, siswa dan juga sekolah.

Pelaksanaan program e-learning digunakan sebagai sumber materi pelajaran, presentasi siswa, baik tugas kelompok maupun tugas perorangan, dan KBM oleh guru. Hambatan dalam pelaksanaan e-lerning diantaranya yaitu: belum semua guru mau menerima keberadaan e-learning, mampu menguasai dan menggunakan e-learning, beberapa media seperti LCD, wireless jumlahnya masih terbatas sehingga penggunaannya harus diatur, harga media ICT masih mahal apa lagi bagi tingkat SD yang terdapat di daerah-daerah terpencil dengan semua keadaan yang serba terbatas. Sedangkan upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut yaitu: . mengadakan pendekatan persuasif tentang pentingnya e-learning, menjalin pola kemitraan dengan pihak-pihak yang peduli dengan pendidikan, mengadakan pelatihan-pelatihan, dan
mengupayakan media yang jumlahnya masih kurang.

DAFTAR PUSTAKA

–                     Gordon, Thomas. 1997. Teacher Effektiveness Training. PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

–                     R. Covey, Steven. 1996. First Things First. PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

–                     Johnson, Elaine B. 2007. ContextualTeachig and Learning. Penerbit MLC: Jakarta

–                     http://ilmukomputer.com/wp-content/uploads/2008/01/adri-multimedia-pengajaran.pdf

–                     Purbo, Onno W, 2003. E-learning dan Pendidikan. Artikel Dalam  Cakrawala Pendidikan Universitas Terbuka.

–                     Siahaan, Sudirman. 2004. E-learning (Pembelajaran Elektronik) Sebagai Salah Satu Alternatif Kegiatan Pembelajaran. Sumber dari internet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: