Gakuseishinsetsu

Dilematika Terorisme

Posted on: 13 Januari 2010

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Hal yang melatarbelakangi dari tema “Keadilan Hukum dalam Islam”, diantaranya:

  • Munculnya berbagai kasus bom bunuh diri atau kasus – kasus terorisme yang terjadi di Indonesia.
  • Pentingnya keadilan dalam penegakan hukum
  • Banyaknya kasus terorisme yang mengatasnamakan Islam sehingga memunculkan pandangan bahwa Islam itu keras
  • Mengangkat pandangan bahwa kegiatan terorisme termasuk dalam jihad, sehingga menimbulkan berbagai persepsi mengenai jihad
  • Perlunya keadilan hukum dalam Islam terhadap para pelaku teroris.

  1. Rumusan Masalah

Munculnya berbagai kasus terorisme di Indonesia yang mengatasnamakan agama Islam dan jihad, memunculkan pandangan pro kontra pada berbagai kalangan. Terorisme merupakan sebuah gerakan baik secara perorangan atau kelompok yang melakukan upaya, pekerjaan, kegiatan dan tindakan dalam bentuk kekerasan baik fisik maupun mental dengan tujuan menciptakan suatu kondisi teror di suatu tempat dan waktu tertentu. Oleh karena itu untuk mencapai keadaan hukum dalam Islam, terutama dalam menindak para pelaku terorisme, sehingga memunculkan berbagai masalah yang perlu dikaji, diantaranya:

  • Seperti apakah prinsip hukum bagi para pembunuh?
  • Kasus – kasus terorisme seperti apakah yang pernah terjadi di Indonesia?
  • Apakah ada kaitannya antara terorisme dan jihad?
  • Bagaimanakah hukum di Indonesia menindak kasus – kasus terorisme dan pelakunya?
  • Bagaimanakah kaitan hukum yang berlaku di Indonesia dengan hukum Islam dalam menindak terorisme
  • Bagaimana  pandangan kita terhadap terorisme.

  1. Tujuan Penulisan Makalah
  • Diperolehnya wawasan tentang keadilan hukum dalam Islam
  • Memiliki pengetahuan maengenai kasus–kasus terorisme yang terjadi di Indonesia
  • Memiliki pengetahuan apa itu teroris
  • Mampu membedakan mana yang dinamakan jihad dan teror
  • Mengetahui keadilan hukum di Indonesia dalam menindak para pelaku teroris
  • Memiliki pemahaman tentang masalah keadilan hukum dalam Islam khususnya pada kasus terorisme
  • Memiliki kemampuan untuk berfikir analitis dan kritis dalam memandang dan menyelesaikan suatu masalah

BAB II

DILEMATIKA TERORISME

  1. Prinsip Hukum Islam Mengenai Pembunuhan

Menurut hukum Fiqih Islam istilah teroris mungkin hampir, bahkan persis dengan istilah قطع الطرق   dimana hukumannya terbagi kedalam empat bagian, yaitu:

  1. Apabila membunuh dan merampas harta maka hukumannya dibunuh lagi kemudian dipanggang
  2. Jika membunuh saja (baik dengan tangan, senjata dan bom) dan tidak merampas harta maka hukumannya dibunuh lagi atau diqishosh.
  3. Kalau hanya merampas harta saja hukumannya diqishosh yaitu dipotong tangan dan kakinya secara silang.
  4. Sedangkan apabila hanya menakut-nakuti saja atau meneror hukumannya yaitu diasingkan atau dibuang.

Sesuai dengan firman Allah SWT:

“Sesungguhnya balasan bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan berusaha melakukan kerusakan di muka bumi, yaitu mereka dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka secara bersilang. Yang demikian itu suatu kehinaan bagi mereka di dunia sedangkan di akhirat mereka mendapat siksa yang pedih.”

(QS Al-Maidah [5]:33).

Dihubungkan dengan perlakuan para teroris yang telah terjadi di negara Indonesia. Permasalahan itu masuk atau tergolong kepada poin dua, yaitu jika membunuh saja (baik dengan tangan, senjata dan bom) dan tidak merampas harta maka hukumannya dibunuh lagi atau diqishosh. Sedangkan membaca situasi teroris yang terjadi di negara kita dihubungkan dengan Firman Allah SWT:

“Barang siapa yang membunuh seorang manusia bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya…”

(QS. Al-Maidah [5]:32).

Di dalam hadits Rasululloh bersabda:

“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti orang muslim lainnya”

(HR. Abu Dawud).

  1. Pengertian Terorisme dan Perbedaannya dengan Jihad

Istilah terorisme telah mengglobal dan dibicarakan oleh hampir seluruh kalangan. Bahkan istilah atau kata terorisme telah dipergunakan oleh Amerika sebagai instrumen kebijakan standar untuk memukul atau menindas lawan-lawannya dari kalangan Islam. Perang melawan terorisme telah menjadi teror baru bagi masyarakat, khususnya kaum Muslimin yang berdakwah dan bercita-cita menjalankan syariat secara kaffah. Terorisme tidak selalu identik dengan kekerasan. Terorisme adalah puncak aksi kekerasan, terrorism is the apex of violence. Bisa saja kekerasan terjadi tanpa teror, tetapi tidak ada teror tanpa kekerasan. Korban tindakan Terorisme seringkali adalah orang yang tidak bersalah. Kaum teroris bermaksud ingin menciptakan sensasi agar masyarakat luas memperhatikan apa yang mereka perjuangkan.

Menurut Fatwa MUI No. 3 tahun 2004 mengenai Terorisme dan jihad:  Terorisme adalah tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban yang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan negara, bahaya terhadap keamanan, per-damaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat. Terorisme adalah salah satu bentuk kejahatan yang diorganisasi dengan baik (well organized), dan digolongkan sebagai kejahatan luar biasa (extra-ordinary crime) yang tidak membeda-bedakan sasaran (indiskrimatif)”.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Teror diartikan sebagai usaha menciptakan ketakutan, keusilan, kekejaman oleh seseorang atau golongan. Dan Teroris diartikan orang yang menimbulkan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut. Biasanya untuk tujuan politik.

Sedangkan pengertian jihad adalah segala usaha dan upaya sekuat tenaga serta kesediaan untuk menanggung kesulitan di dalam memerangi dan menahan agresi musuh dalam segala bentuknya.

Perbedaan antara Terorisme dengan Jihad:

  1. Terorisme:
    1. Sifatnya Merusak (Ifsad dan anarkhis)
    2. Tujuannya untuk menciptakan rasa takut dan/atau menghancurkan pihak lain
    3. Dilakukan tanpa aturan dan sasaran tanpa batas
      1. Jihad:
      2. Sifatnya melakukan perbaikan (ishlah) sekalipun dengan cara peperangan
      3. Tujuannya menegakkan agama Allah dan/atau membela hak – hak pihak yang terzholimi.
      4. Dilakukan dengan mengikuti aturan yang ditentukan oleh syariat dengan sasaran tanpa batas

Hukum Melakukan Teror dan Jihad

  • Hukum melakukan terror adalah haram, baik dilakukan oleh perorangan, kelompok, maupun negara

“Sesungguhnya balasan bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan berusaha melakukan kerusakan di muka bumi, yaitu mereka dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka secara bersilang. Yang demikian itu suatu kehinaan bagi mereka di dunia sedangkan di akhirat mereka mendapat siksa yang pedih.” (QS Al-Maidah [5]:33).

  • Hukum melakukan jihad adalah wajib

Allah Ta’ala Berfirman

“Diwajibkan padamu sekalian berperang, sedang perang itu suatu hal yang dibenci olehmu semua dan barangkali engkau semua membenci sesuatu, padahal ia adalah lebih baik untukmu semua, juga barangkali engkau semua senang pada sesuatu, padahal ia adalah lebih buruk untukmu semua. Allah adalah Maha Mengetahui, sedangkan engkau semua tidak mengetahui.” (Al-Baqarah:216)

  1. Kenyataan Hukum di Indonesia Menindak Kasus Terorisme

Menurut Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 ayat 1, Tindak Pidana Terorisme adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. Mengenai perbuatan apa saja yang dikategorikan ke dalam Tindak Pidana Terorisme, diatur dalam ketentuan pada Bab III (Tindak Pidana Terorisme), Pasal 6, 7, bahwa setiap orang dipidana karena melakukan Tindak Pidana Terorisme, jika:

  1. Dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional (Pasal 6)
  2. Dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan bermaksud untuk menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional (Pasal 7)

Dan seseorang juga dianggap melakukan Tindak Pidana Terorisme, berdasarkan ketentuan pasal 8, 9, 10, 11 dan 12 Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Dari banyak definisi yang dikemukakan oleh banyak pihak, yang menjadi ciri dari suatu Tindak Pidana Terorisme adalah:

  1. Adanya rencana untuk melaksanakan tindakan tersebut.
  2. Dilakukan oleh suatu kelompok tertentu.
  3. Menggunakan kekerasan.
  4. Mengambil korban dari masyarakat sipil, dengan maksud mengintimidasi pemerintah.
  5. Dilakukan untuk mencapai pemenuhan atas tujuan tertentu dari pelaku, yang dapat berupa motif sosial, politik ataupun agama.

Selain Undang-undang No. 15 tahun 2004 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme juga dijelaskan dalam Undang-undang terorisme pasal 340 dan pasal 10 KUHP.

Pasal 340: Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. Paling lama 20 tahun

Pasal 10 KUHP: Pidana terdiri atas:

  1. Pidana Pokok:
    1. Pidana Mati
  2. Penjara
  3. Kurungan
  4. Denda
  5. Pidana Tambahan:
    1. Pencabutan hak-hak tertentu
    2. Perampasan barang-barang tertentu
    3. Pengumuman putusan hakim

  1. Pandangan Kelompok tentang Terorisme

Kata Terorisme identik dengan kekerasan. Hal ini bisa kita amati dari kejadian – kejadian yang terjadi di Indonesia. Bom bunuh diri yang pernah beberapa kali terjadi. Menewaskan orang banyak, merusak infrastruktur Pemerintah. Ironisnya kata Teroris ini melekat dengan orang Islam yang notabenenya cinta damai. Karena hampir semua kasus terror di Indonesia khususnya bom bunuh diri dilakukan oleh orang-orang Islam.

Teroris-teroris ini tidak sembarangan bisa dicetak, mereka mengalami pembinaan, disuguhi ayat-ayat Al-Qur’an tentang jihad tetapi dalam pemaknaan dan pengaplikasian yang tidak tepat. Mungkin para pelaku melaksanaknnya karena dorongan jihad yang tinggi dalam jiwanya, tetapi mereka melakukan cara yang keras, sehingga kita melihatnya sebagai timdakan kriminal.

Bagaimanapun itu (terorisme) adalah tindakan yang merugikan dan menzhalimi orang banyak. Dalam Islam hal itu tidak diperbolehkan dan harus mendapat sanksi.

BAB III

KESIMPULAN

  1. A. Kesimpulan

Bagaimanapun terorisme merupakan tindakan criminal yang harus ditindak secara hukum yang berlaku di Indonesia. Dalam Islam pun membuat kerusakan, merugikan dan mendzalimi orang banyak merupakan tindakan yang dilarang dan harus mendapat sanksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: